Montag, 8. Februar 2016

bersama dan tanpa(mu).

saat hujan menyapa terik mentari
aku berlindung padamu sambil menari
aku lihat semua orang menatap iri
saat kopimu datang
cangkir coklatku menatap malang
kenapa harus cepat pulang?
saat kisahku pamit bersama senja
kisahmu selalu jadi yang kupuja
aku selalu suka berdua denganmu saja
saat malam membuatku rindu
terdengar pelan lagu-lagu sendu
mengapa sedetik serasa sewindu?

Freitag, 29. Januar 2016

kita adalah...

kita adalah beberapa keping yang digenggam waktu begitu erat.
lucunya, sesuatu yang begitu erat digenggam,
jadi begitu rentan terlepas lewat celahnya.

kita adalah kepingan puzzle yang saling membutuhkan dan melengkapi.
anehnya, terkadang kekosongan jadi sesuatu yang kita cari,

kita adalah rinai hujan yang merasa mencintai, dan dicintai.
nyatanya, kita dihalangi payung warna-warni,
hingga seringkali kau jadi hal yang tak dapat kusentuh lagi.

kita adalah jejeran buku di lemari, tersimpan rapi.
sayangnya, yang lama tersimpan kadang mudah hilang
setelah yang baru datang menjelang.

kita adalah beberapa yang tadi kuungkapkan.
dan padamu, kita kulepaskan.

Donnerstag, 7. Januar 2016

Ketika memikirkanmu

"Lagu apa yang kamu suka?"
Aku ingin pembicaraan kita bermula sesederhana itu.
Lalu aku akan memutarkan lagu kesukaanku, dan kita diam sesaat menikmati untaian nada, lirik yang menerangkan banyak makna. Setelah itu, kau akan tertawa, atau bahkan mengejek lagu kesukaanku.
Asal kau tahu, ini untukmu. Kataku dalam hati.
kau juga bertanya mengapa aku tak suka durian, kenapa aku suka membaca novel, atau pertanyaan seperti: "kenapa nulis pakai tangan kiri?" dan aku akan balik bertanya mengapa kau suka menulis puisi, tentang puisi pertama yang kau tulis, buku kesukaanmu, lagu yang kau dengar ketika sendu, aku ingin dengar semua tentangmu hingga cangkir kopi kita kosong.
Aku ingin jadi puisimu.
Berkali-kali bahkan tiap kali, aku selalu jadi yang menuliskan puisi. Kali ini, bersama kamu, aku ingin jadi puisi. Aku ingin jadi alasan jari-jarimu menari lincah pada keyboard laptop, atau catatan kecilmu.
Aku ingin bercerita tentang sesuatu yang tak pernah kubagikan pada yang lain, yang lama mendekam di hatiku.
Aku juga ingin mendengar lukamu, tentang patah hati yang susah terlupakan.
Aku ingin menghabiskan hari di perpustakaan bersamamu. Duduk bersampingan sembari tenggelam pada imaji masing-masing.
Aku ingin tau rasanya, menjadi diriku saat bersama orang lain ketika bersamamu.

Mittwoch, 16. Dezember 2015

sebelum dan setelah

sebelumnya, aku mencinta, 
lalu puisi datang bercerita.
sebelumnya, desir mendesir,
lalu puisi tiba menyisir.
sebelumnya, adalah alasan yang bicara,
lalu puisi bersuara.

setelahnya, ada kamu.
yang buat puisiku jadi tersipu
setelahnya, ada kamu.
yang buat aku terpaku
setelahnya, ada kamu


aku tak minta lebih dari itu.

this quote describes exactly how i feel for you

source: www.pinterest.com

Sonntag, 25. Oktober 2015

sore itu

Sore itu,
Tanganku diam di saku jaketmu
Bagai menantang cantiknya,
Aku merona
Sore itu,
Percakapan kita lebur pada mentari
yang lelah lihat kita tautkan jemari
Sore itu
Mimpi kita dustai malam
Terlanjur hilang jauh di dalam
Sore itu
Bersamamu adalah baik-baik saja
Tak peduli waktu menggelayut manja.

Montag, 19. Oktober 2015

Review Buku: Sabtu bersama Bapak


Judul Buku: Sabtu Bersama Bapak
Pengarang: Adhitya Mulya
ISBN: 9789797807214
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 278 Halaman

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain” 

Kutipan diatas merupakan salah satu bagian favorit saya dalam buku ini. Buku yang secara garis besar berkisah tentang sebuah keluarga yang selalu punya cara menghabiskan waktu bersama dan menggambarkan hubungan yang hangat dan harmonis ini sangat menggugah perasaan saya. 
Kebijaksanaan seorang Ayah, kesederhanaan seorang Ibu, rukunnya persaudaraan antara Cakra dan Satya dikemas ringan dan manis dalam buku ini.
Dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti membuat novel ini bercerita tentang seorang Ayah yang didiagnosa mengidap penyakit berat dan mencari cara agar selalu bersama anak-anaknya walau maut memisahkan melalui video-video yang setia menemani anaknya hingga dewasa.

Dengan membaca buku ini pembaca tak hanya merasa terhibur namun juga mendapat banyak pelajaran hidup yang berharga. 


anak kecil

lampu mati, kau terpejam. ku nyanyikan selamat tidur, untuk kau, anak kecil. mereka bilang, banyaklah bermimpi jika nanti kau cium me...